Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hi, reader!   Pada kesempatan kali saya akan mengulas buku Ganjil-Genap karya Almira Bastari. Apakah kalian sudah pernah membaca buku Ganjil-Genap? Buku Ganjil-Genap adalah buku kedua karya Almira Bastari setelah judul Resign yang akhirnya selesai saya baca.

Yuk, langsung saja simak identitas buku dan ulasannya dari saya!



Judul: Ganjil-Genap
Penulis: Almira Bastari
Terbit: Cetakan ketiga, Maret 2020
Tebal: 344 Halaman
ISBN: 9786020638010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Blurb:

Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?

Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nandi, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.

Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?


Ulasan saya:

Sebelum membaca buku Ganjil-Genap saya sudah pernah membaca buku karya Almira Bastari yang berjudul Resign. Maka saya mempunyai harapan akan terhibur lagi dengan gaya bahasa dan cara penyampaian cerita yang sangat lucu. Setelah saya baca, ternyata tidak mengecewakan dan sesuai dengan harapan saya.

Sebelum membaca buku Ganjil-Genap, saya terlebih dahulu mendengarkan podcast Buku Kutu episode: 98. Ngobrolin Ganjil Genap dan Resign bareng Almira Bastari.  Di podcast tersebut Almira bercerita banyak hal mulai dari kisahnya yang benar-benar pernah hampir ditilang polisi, belajar menyelam, dan mencoba aplikasi pencarian jodoh.

Ganjil-Genap tidak hanya soal pengaturan lalu lintas mobil pribadi di kawasan Jakarta, tetapi juga soal Gala gadis berusia 29 tahun sebagai sudut pandang orang pertama pada cerita ini yang ingin menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya.

Percakapan-percakapan antara Gala dengan tiga orang sahabatnya membuat saya tidak mau berhenti membaca cerita ini, bagian setiap percakapan inilah yang menurut saya sangat menghibur. Karena ketiga sahabatnya Gala mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan satu sama lainnya. Ada yang kepo-an dan sok nasehatin dengan ide gilanya. Banyak terselip gaya bahasa dan penyampaian cerita yang lucu. 

"Sahabat adalah pertolongan pertama pada saat putus cinta." —Jomblo yang tidak ingin sendiri (P. 31)

Alur maju pada cerita ini membawa saya untuk menyaksikan kesedihan Gala diputusin laki-laki yang sudah tiga belas tahun menjadi kekasihnya, semangat perjuangan Gala mencari jodoh agar bisa menikah sebelum usia kepala tiga khawatir adiknya yang bernama Gisha akan menikah duluan, dan usahanya mempertahankan benteng kekuatannya agar tidak mudah menerima bujuk rayu untuk menerima lagi cinta sang mantan.


Hikmah cerita yang saya dapatkan:

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil hikmahnya dari kejadian yang dialami oleh Gala pada cerita Ganjil-Genap ini. Terutama tentang jodoh dan pernikahan. Di mana seharusnya beberapa tokoh pada cerita ini berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri terlebih dahulu. Hal ini dicontohkan seperti trauma yang terjadi pada Aiman akibat kedua orang tuanya sehingga dirinya takut untuk menikah kemudian bercerai seperti orang tuanya tersebut. Contoh lainnya adalah juga ketakutan yang dialami Gala sehingga dirinya merasa tidak mau lagi ditinggalkan seperti Bara meninggalkannya.

"Jodoh bukan sesuatu yang bisa dipaksa, sesederhana itu." —Jomblo yang dilangkahi (P.244)

Beberapa orang secara naluriah memang takut menikah, hingga kekasihnya harus bersabar. Namun, di sini Gala sebagai tokoh utama menekankan suatu hubungan cinta harusnya berakhir pada komitmen pernikahan bukan sekedar kebersamaan yang sewaktu-waktu bisa pergi ketika bosan atau menemukan orang yang lebih dicintai.

"Aku bukan wanita mandiri yang nggak butuh pernikahan. Di luar sana, mungkin ada kayak gitu. Tapi bukan aku. Aku mau orang yang akan stay selamanya di sisiku. Bangun keluarga sama aku." —Gala (P. 286)

Seorang perempuan jika ingin mencari jodoh juga harus berusaha bukan hanya diam dan menunggu begitu saja berharap sang jodoh datang dengan sendirinya. Namun, ketika segala jenis usaha itu telah dilakukan belum juga membuahkan hasil maka kejombloan harus tetap dihadapi. Meski masih juga sendiri dan belum menemukan jodoh bukan berarti hidup tidak bahagia, hidup harus terus dijalani dengan kebahagiaan.

"Bisa bahagia nyatanya belum tentu bisa didapatkan dengan "digenapi" orang lain. Bahagia harusnya datang dari diri sendiri." (P.336)

Pacaran sampai belasan tahun tidak menjamin bahwa itu jodoh yang akan membawa ke jenjang pernikahan. Karena ada banyak hal di dunia ini yang tidak akan terjadi seperti yang kita inginkan. Mungkin saja orang tersebut memang bukan calon yang terbaik.

"Tidak sepenuhnya hasil memperlihatkan usaha. Perempuan baik mungkin harus menunggu untuk berakhir dengan pria baik. Pria baik mungkin harus menjalani proses karena sebelumnya memiliki masa lalu yang jauh dari kata baik. Tidak memiliki pasangan tidak menjadikan dunia ini berakhir. Dunia berjalan sebagaimana mestinya."—Gala (P. 286)

Saya tidak meyangka kalau epilog cerita ini mengandung daging banyak makna yang terucap dari Gala yang menunjukkan bahwa dia telah berdamai dengan dirinya sendiri. Woow... rasanya saya ingin beri tepuk tangan buat tokoh utama yang bernama Gala pada akhir cerita pencarian jodohnya ini.

Jadi, bagaimana pendapat kalian tentang ulasan saya kali ini?
Apakah kalian penasaran Gala berhasil atau tidak mendapatkan jodohnya sebelum adiknya menikah?

Saya rekomendasikan novel ini untuk kalian yang suka buku bergenre Metropop dengan nuansa humor yang bikin kalian ketawa geli menggelitik, tapi kaya dengan pesan dan makna dalam usaha pencarian jodoh.

Terima kasih sudah membaca dan berkunjung ke blog ini.
Sampai jumpa di postingan lainnya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
—Desti