#5 Sharing Story: Waktu untuk Bersyukur

 



WAKTU UNTUK BERSYUKUR

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad.

    Hi, reader! Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan catatan kajian tentang waktu untuk bersyukur yang pernah saya dengarkan dari Ustadzah Aisyah Farid Binti Syekh Abu Bakar dan Ustadz Abu Bassam Oemar Mita, Lc.

    Ustadzah Aisyah Farid BSA mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW sudah beritahu kepada kita, penyesalan yang paling disesalkan orang nanti di akhirat itu adalah terlewatnya waktu ketika mereka di dunia yang tidak mereka isi dalam mengingat Allah. Sesaat waktu yang terbuang di dunia yang tidak kita gunakan untuk mengingat Allah, sesaat waktu itu akan menjadi penyesalan terbasar bagi mereka di akhirat.

    Ketika kita mengingat Allah, pernah tidak kita mengingat nikmat apa yang paling sering terlupakan dari-Nya? sadar tidak kita lebih banyak mengeluhhnya dari pada bersyukur kepada-Nya?

Ustadz Abu Bassam Oemar Mita, Lc. Mengingatkan tentang bersyukur, tenang, dan lapang.

    Syukur itu bukan anjuran, tetapi syukur itu merupakan kewajiban dan komitmen. Sabarnya tanpa tepi, syukurnya tanpa syarat, dan ridanya tanpa batas dalam kehidupan kita. Syukur setiap waktunya dan setiap saatnya di dalam kehidupan seseorang: Kalau dia bersyukur maka Allah memberikan kepadanya dua, yaitu Allah memberikan kepadanya tenang dan Allah memberikan kepadanya lapang. Puncak kualitas kehidupan kita bukan bahagia tapi puncak kualitas kehidupan kita adalah lapang.

    Hidup itu bukan tentang bahagia. Hidup itu tentang tenang dan dilapangkan oleh Allah. Ketika kita menghadapi berbagai macam ujian, bisa tidak kita berdoa supaya dalam hidup ini tidak ada ujian sama sekali? Tidak bisa. Fitrahnya hidup itu memang ada ujian. Sebagaimana kita menanam bunga pasti ada rumput liarnya. Hidup itu pasti ada ujian. Yang kita minta “Ya Allah, hilangkan ujian dalam hidupku sama sekali.” Tidak bisa. Ujian tetap datang satu dan dua. 

  Tapi yang paling penting adalah Allah memberikan kepada kita lapang selama kita bersyukur bahwasanya kita diatur oleh Allah dengan sebaik-baik pengaturan dan pengaturan Allah tidak pernah salah. Takdirnya Allah tidak pernah khilaf dan takdir Allah tidak pernah cacat. Maka bersyukurlah kepada Allah apapun kondisinya.

    Mungkin orang membicarakanmu, tapi kamu tenang. Mungkin orang mungkin ada yang menghujatmu, kamu lapang. Dan itu tidak akan kita dapatkan kecuali kita bersyukur atas semua yang Allah berikan di dalam kualitas kehidupan kita. Ada orang yang terkadang punya ilmu belum tentu punya tenang. Ada orang yang sering ngaji belum tentu hatinya lapang. Karena sesungguhnya tenang dan lapang itu hanya kepada mereka yang Allah kehendaki ketika mereka bersyukur.

    Dan ketika kita bersyukur kita mendapatkan tenang dan mendapatkan lapang di dalam kehidupan kita. Bersyukurlah kepada Allah kalau kita sudah ridho, semuanya yang terjadi kita nikmati dan semuanya kalau kita nikmati pasti akan bermanfaat pada kehidupan kita selama kita bisa untuk menikmati setiap peristiwa.

   Alhamdulillah, jadi dapat pengingat tentang bersyukur. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam saya menyampaikan baik ceritanya maupun penulisannya di postingan ini. Kalian yang membacanya jangan sungkan untuk menyampaikannya ke saya apabila terdapat kesalahan, ya.

Semoga sharing story ini bermanfaat untuk saya dan juga untuk kalian juga yang membacanya. Menjadi bagian usaha kita untuk lebih memperhatikan rasa syukur ketika kita dalam kondisi apapun di dalam kehidupan ini. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang diinginkan untuk menjadi baik dan lebih baik lagi. Aamiin...

   Terima kasih sudah membaca dan berkunjung ke blog ini. Sampai jumpa di postingan sharing story lainnya.

Barokallahu fiikum.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

—Desti

 

0 Comments