Book Review & Resume : you're so toxic & manipulative i hate you so much

 

WAHANA ISI HATI
Taman hiburan yang terbengkalai.
Pengunjungnya jarang. Tapi anehnya,
semua pengunjungnya berwajah sama denganmu.


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hi, reader!   Pada kesempatan kali ini aku akan mengulas buku you're so toxic & manipulative i hate you so much.
Yuk, langsung saja simak identitas buku dan ulasannya dari aku!


Judul: you're so toxic & manipulative i hate you so much
Penulis: Alvi Syahrin
Tebal: 324 halaman
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Januari 2026
Penerbit: Alvi Ardhi Publishing
Link Pembelian: Klik disini

Blurb: 

Isi buku:

1. I JUST WANT TO BE FREE!!!
2. Tapi, kenapa susah melepas orang toxic?
3. Minta maaf? Oh, itu alergi dia.
4. Tutorial Bikin Orang Toxic Merasa Bersalah Sampai Minta Maaf.
5. Silent treatment? Oh, itu hobinya.
6. Tutorial Menaklukkan Manusia Hobi Silent Treatment.
7. Playing victim? Oh, dia juaranya.
8. Tutorial Mengalahkan Manusia Jago Playing Victim
9. Bagaimana jika orang toxic itu adalah orangtuaku sendiri?
10. Ironisnya, aku masih berharap dia berubah.

Dan, di sinilah kamu, menyentub buku ini, terpojok dan berdarah-darah karena ulah orang toxic itu, and you just want to be free, dan kamu sudah ada di langkah yang tepat, karena di buku ini, ada 40 bab yang membantumu mengalahkan orang-orang toxic itu, lalu lari ke tempat yang aman.


Ulasan:

Ini adalah buku self-improvement yang selama aku membacanya terasa seru dan menarik. Baru 18 halaman pertama langsung diajak masuk ke sebuah gerbang berbentuk hati, bertulisan 'WAHANA ISI HATI'.
P.18
Lalu, aku berkata, "Lihatlah ke sisi kiri."
Dan, kepalamu menoleh. Melihat sebuah gerbang. Sebuah gerbang berbentuk hati. Berukuran raksasa. Di tengah hati raksasa itu, ada sebuah patahan. Membuatnya terlihat seperti hati yang patah. Patahannya terlihat seperti sebuah celah, sebuah pintu masuk menuju suatu tempat. Kamu menengadahkan kepala ke pintu hati itu, dan ada papan yang tak lagi menyala, bertulisan, 'WAHANA ISI HATI'.
Wahana Isi Hati?


Seolah menggambarkan isi hati kita terlihat seperti taman hiburan yang terbengkalai ini. Tak banyak manusia yang berlalu-lalang di taman hiburan terbengkalai ini. Jarang-jarang. Anehnya semua manusia di sini berwajah sama dengan diri kita. Tingginya, matanya, bibirnya, semuanya sama. Seakan semua ini adalah saudara kembar kita, mereka semualah yang disebut dengan versi diri kita yang terperangkap.
P.20
Saat kamu mengambil beberapa langkah, kamu melihat rollercoaster merah muda sedang naik-turun di treknya yang meliuk-liuk. Tak jauh dari sana, ada komidi putar yang berputar tanpa iringan musik, hanya deritan mesin. Di sebelahnya, ada rumah hantu yang diselimuti debu dan sarang laba-laba. Di sisi kanan yang jauh, ada bianglala yang bergerak amat pelan—begitu raksasa, begitu tinggi, menyentuh awan. Lalu, ada wahana Sepeda Layang, wahana The Dark Room, dan wahana-wahana usang lainnya.

"Terperangkap?"

"Terperangkap karena dia—orang paling toxic dan manipulatif di hidupmu."
"Kamu bilang ini terperangkap, tapi kenapa kita malah ada di taman hiburan?"
P.23
Karena beginilah rasanya terjebak bersama orang yang toxic dan manipulatif. Kepadanya, kamu selalu berusaha jadi orang yang menyenangkan dan seru. Kepadanya, kamu selalu berusaha jadi penghibur dan pelipur lara. Kepadanya, kamu selalu rela merendahkan dirimu agar dia merasa lebih berharga. Kepadanya, kamu rela menjadi bahan ejekan agar dia bisa tertawa. Kepadanya, kamu selalu meminta maaf di hari-hari buruknya, meski itu tak selalu karena salahmu. Kepadanya, kamu rela berusaha sangat keras demi melihat setitik senyumnya. Kepadanya, kamu usahakan segalanya. Kepadanya, kamu berikan segalanya. Tapi, hatimu yang jadi terbengkalai.

Yang dimaksud versi diri kita adalah: BAHAGIA, CINTA, HARAP, EFFORT, MIMPI, POSITIF, dan PEOPLE PLEASER. Perintahnya adalah kita harus mengumpulkan semua versi diri kita yang masih terjebak di wahana itu. Kita dan semua versi diri kita harus berkumpul sebelum tengah malam. Sebelum pertunjukan kembang api. Lalu meninggalkan tempat itu sejauh-jauhnya.
*Nah, ketika mencari semua versi diri ini adalah bagian seru dari buku ini. Dicari berlari menyisiri wahana. Ada yang lagi di wahana Rumah Cermin, Roller Coaster Paling Emosional, Labirin Harta Karun, the Dark Room, Komedi Putar yang Selalu Mengejarnya, Rumah Hantu, Kapal Berayun dan Bianglala.
Kalian penasaran nggak, ekspresi wajah mereka yang masih terjebak seperti apa? dan ditemukannya kira-kira lagi ngapain?

Selain wahana yang sudah aku sebutkan, di sana ada juga ada RUANG SIMULASI. Begitu banyak ruang simulasi yang butuh kita masuki.
P.137
Ruang Simulasi Silent Treatment. Ruang Simulas Playing Victim. Ruang Simulasi Merasa Bersalah. Ruang Simulasi Drama dan Marah-Marahnya. Ruang Simulasi Passive Aggresive. Ruang Simulasi Guilt-Tripping. Ruang Simulasi Gaslighting. Ruang Simulasi Kata-Kata yang Menyakitkan. Ruang Simulasi Manipulasi. Ruang Simulasi Fitnah dan Perusak Reputasi. Begitu banyak ruang simulasi yang butuh kamu masuki. Karena kamu tak bisa memenangkan peperangan ini jika kamu tak tahu cara melawannya. Karena kamu tak bisa menolong berbagai versi dirimu, yang telah menantimu di bawah sana, jika kamu masih mudah dimanipulasi oleh dia.

Nggak cuma masuk ruang simulasi, tapi juga diberi tahu TUTORIAL yang bisa membantu kita.
*Nah, setiap tutorial yang diberikan inilah bagian menarik dari buku ini. Ada tutorial menaklukkan manusia hobi silent treatment, tutorial mengalahkan manusia jago playing victim, tutorial bikin orang toxic merasa bersalah sampai minta maaf, tutorial marah-marah paling elegan, tutorial mencegah diri dari jebakan guilt-tripping, tutorial bodo amat dan menepis kata-kata menyakitkan dari seseorang, tutorial melawan gaslighting dengan elegan dan cerdas, dan tutorial melawan manusia suka passive aggressive tanpa drama.
Kalau kita masih merasa asing atau nggak tahu kata-kata istilah seperti itu ada penjelasanya juga, maksudnya apa. Bahasa dan narasi buku ini ringan. Terasa lagi dibimbing, diberi nasehat tanpa menggurui.

*Daftar isinya unik. Ada 40 bab, kalau lihat dari belakang sampul buku ada 10 point yang menjadi inti pembahasannya, dan tebalnya 324 halaman terbentuk jadi peta bergambar wahana di taman hiburan.

*Aku juga suka sampul buku ini. Karena sudah mencerminkan dari isi buku yang disampaikan. Kebanyakan orang kalau lagi marah kan merah membara berapi-api dan kalau sedih sampai merasa kayak lagi berdarah-darah. Ya, apalagi kalau bukan karena ulah orang toxic itu.

*Buku ini direkomendasikan untuk kalian yang sedang berusaha mengalahkan orang-orang toxic itu. Agar bisa lari ke tempat yang aman.

*Tentunya juga ada banyak pesan beserta hal-hal yang bisa kita pelajari di buku ini, loh.


10 pesan dari buku ini beserta hal-hal yang bisa kita pelajari, yaitu:

  1. Nggak gampang untuk let go, cut off, dan nggak gampang untuk terus sabar menghadapi orang toxic & manipulative. Tapi, tetap bersama dia juga rasanya seperti membunuh kita pelan-pelan. Yang kita butuhkan belajar untuk menghilangkan attachment kita ke dia dulu. Agar kita tidak jadi toxic terhadap diri kita sendiri. Agar tidak selalu menerima hal-hal yang seharusnya tidak terus-terusan kita terima. Agar kita tidak ikut berpartisipasi dalam menghancurkan diri kita sendiri, secara tidak langsung mengizinkannya untuk mengacaukan hidup kita. Tidak semua hal harus di-gapapa-in.
  2. Kita layak untuk mendapatkan orang-orang baik. Namun, sebelum itu semua terjadi, kita harus menjadi orang yang lebih baik pula.
  3. Ketika kita berpikir "Aku berusaha baik untuk dia—" Padahal tanpa sadar kita sudah terlalu baik sampai-sampai udah nggak ada batasan lagi. Menjadikan itu aksi manipulatif untuk tetap menjaganya agar dia tidak pernah pergi meninggalkan diri kita. — P. 48 
    Jadi, kalau kamu berbuat baik kepadanya, karena kamu ingin berbaik hati kepada sesama manusia, terlebih karena kamu mengharapkan kasih sayang Allah, maka itu perbuatan mulia.
  4. Mungkin kita harus belajar berhenti mencari adrenalin baru hanya untuk secuil bahagia yang fatamorgana. Belajar mencari bahagia dari dalam diri kita sendiri. Agar bisa benar-benar merasakan hidup kita terasa seperti hidup kita sendiri. Tidak lagi menyandarkan hidup ini ke makhluk yang lemah dan toxic. — P. 69 
    Mungkin, kita butuh melangkah pelan-pelan.
    Mungkin, bahagia tak harus menantang adrenalin.
    Mungkin, bahagia tak harus datang segera.
    Mungkin, bahagia tak harus datang segera.
    Mungkin, bahagia tak perlu terasa seperti terbang tinggi.
    Dan, pastinya, bahagia akan berubah menjadi sesuatu yang beracun jika hanya dikerucutkan kepada satu orang yang salah.
  5. Ketika diri kita pernah dibuat merasa nggak penting olehnya, kita jangan semakin merasa ikutan mikir "Aku nggak penting". Meskipun, mungkin bagi orang lain, kita juga nggak sepenting itu. Tapi, bukan berarti diri kita harus diistimewakan. Setidaknya kita penting untuk diri kita sendiri.— P. 87 
    Dan, aku juga berpikir kayak, 'Allah saja memutuskan menciptakan aku, mana mungkin Allah menciptakan sesuatu yang nggak penting?' Oke, aku bukan manusia sempurna dan paling bermanfaat di dunia ini, kayak kalau nggak ada aku, ya, dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya, tapi pasti ada makna kenapa aku—dan kamu—diciptakan. Dan, jawabannya nggak selalu karena dia dan untuk dia.
  6. Tidak perlu berdoa mengharapkan kebaikan darinya, apalagi sampai mengharapkan keburukan untuknya. Doakanlah diri sendiri, yang lebih butuh didoakan oleh diri kita sendiri. Karena bukan cuma dia masalahnya. Kita juga bagian dari masalah: yang terlalu butuh valiadasi darinya, selalu ingin dikuatkan olehnya, dan rela kehilangan diri demi bertahan. Ketika kita berdoa, tujuan terbesar kita seharusnya terletak pada hubungan kita dengan Allah. Bukan terlalu mementingkan hubungan kita dengan dia.
  7. Ketika kita menuangkan banyak effort kepadanya. — P.106
    Seseorang terasa berharga karena kamu menuangkan banyak effort kepadanya. Tanpa effort darimu, dia hanyalah orang biasa yang tak terlalu bernilai di hidupmu.  
    Ketika kita berusaha untuk nggak usah effort apa-apa dulu, tapi ternyata berusaha nggak effort, itu juga effort. Seperti berusaha nggak nanya kabarnya, berusaha nggak nanya
    'kamu kenapa?' ketika mukanya sedang masam, berusaha nggak mikir keras 'aku salah apa?' ketika dia lagi ngambek nggak jelas, berusaha nggak selalu cerita ini itu ke dia meskipun hati kita sangat ingin, berusaha nggak kirim chat panjang betapa kita tidak ingin kehilangannya, itu semua juga effort. — P. 110 
    Effort nggak selalu tentang trying, tapi juga not trying.
  8. Kita butuh bertemu berbagai manusia dengan berbagai jenisnya. — P. 157
    Kadang, kita butuh bertemu berbagai manusia dengan berbagai jenisnya untuk jadi manusia yang lebih fleksibel, nggak lempeng, nggak mudah dibodohi lagi. Dan, kita butuh melalui berbagai musim kehidupan supaya kita mengenal siapa kita, apa sisi baik dan buruk kita, bagaimana kita ingin diperlakukan.
  9. Kalau seseorang sudah minta maaf, lalu mengulangi kesalahan yang sama, lalu minta maaf, lalu salah lagi, lalu maaf lagi, lalu salah lagi. Maaf akhirnya tak ada harganya lagi. Yang sebenarnya kita butuhkan bukanlah hanya ucapan maaf, tapi perubahan yang nyata. Jangan redam amarah ini, tapi jangan tumpahkan sembarangan. Lebih baik ceritakan amarah ini ke orang yang kita percaya atau ceritakan kepada-Nya. Allah yang Maha Mendengar, Maha Bijaksana, tak akan menyepelekan perasaan ini, tak akan menghakimi kita. Agar bisa bisa berpikir jernih: menemukan letak kesalahan kita, cara memperbaikinya, langkah apa yang harus kita ambil. — P. 181
    Kita tidak butuh ucapan maaf seseorang untuk bisa melanjutkan hidup. Kita tidak butuh validasi maaf seseorang untuk memvalidasi perspektif kita.
  10. Sisakan ruang hati kita untuk belajar memaafkannya, bukan berarti harus kembali seperti dulu, tapi beranjak.— P.285
    Memaafkan, karena hati sepertimu butuh ruang yang lebih luas daripada terus-menerus diisi oleh kebencian.


Ya, itulah ulasan dari buku you're so toxic & manipulative i hate you so much.
Bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk membeli dan membaca buku ini?
Kalau kamu mau baca buku ini juga, klik disini untuk pembeliannya.
Terima kasih sudah membaca dan berkunjung ke blog ini.
Semoga postingan ini memberikan manfaat.
Sampai jumpa di postingan lainnya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

—Desti


0 Comments